Cari Berita Tentang Syiah

Mazdakisme, Sejarah dan Hakekat Ajaran Syi'ah



Mengapa Syi’ah berbeda dengan Islam? Jika ditelusuri lebih dalam akar ajaran Syi’ah ternyata menurut Ustadz hartono Ahmad Jaiz, Syi’ah itu menjadikan ajaran lokal Persia Kuno yaitu Mazdakisme sebagai ruh dari ajaran Syi’ah yang akhirnya menundukkan ajran Islam itu sendiri.
“Sebenarnya Syi’ah itu ekstrem dalam mengakomodasi muatan lokal bangsa Persia,” kata Ustadz Hartono.
Dalam paparannya, Mazdakisme adalah ajaran Persia kuno yang dibawa oleh seorang nabi palsu Mazdak di Persia, yang hidup di masa 40 tahunan sebelum nabi Muhammad SAW lahir. Ajaran Mazdak menurut Ustadz Hartono, yang terkenal dalam ajaran yaitu kepemilikan bersama terhadap wanita dan harta.
“Wanita dan harta ibarat rumput dan air. Oleh Mazdak dijadikan milik umum,” tuturnya.
Sehingga pada zaman Raja Parsi Gibas yang menjadi pengikut ajaran tersebut, menurut Ustadz Hartono, kehidupan di seluruh pelosok Parsi dipenuhi perzinahan dan perampokan pada saat itu. Dan baru berkurang di masyarakat Parsi, ketika putra mahkota kerajaan Parsi Anusyrwan menantang debat nabi palsu Mazdak yang meminta ibunya, ratu kerajaan Parsi untuk dinikmati oleh Nabi Mazdak yang mengajarkan peningkatan iman melalui perzinahan.
“Mazdak kalah debat dengan Anusyrwan, sehingga ia dan pengikutnya dipenggal,” terang beliau.
Ajaran ini, ternyata tidak benar-benar hilang. Syi’ah menaruh ajaran Mazdak tersebut dengan mendompleng ajaran Islam yang benar. Ajaran Mazdak berupa perzinahan yang sudah mendarah daging cukup sulit dihilangkan secara total ketika itu, maka oleh rahib-rahib Syi’ah diupayakan legal di dalam Islam.
“Sehingga, ajaran Mazdak itu diswitch (alihkan) ke Islam dengan nama nikah mut’ah,” jelas ustadz Hartono.
Padahal, nikah mut’ah sudah dilarang pada perang Khaibar dalam riwayat Imam Muslim. Akan tetapi menurut Ustadz Hartono, kecintaan orang Syi’ah kepada nabi palsu Mazdak lebih besar dari pada Nabi yang asli yaitu Nabi Muhammad SAW.
“Mereka tetap saja, lebih menuruti ajaran Mazdak,” ujarnya.
Lebih dari itu, Syi’ah hanya mengakui keturunan Husain RA saja yang dianggap sebagai Imam mereka, disebabkan Husain menikahi Sah Robanu seorang Putri kerajaan Persia dan melahirkan Ali Zainal Abidin bin Husain.
“Maka, darah Parsi yang ada diri keturunan Ali Zainal Abidin itulah yang dikultuskan oleh Syi’ah,” ungkap Ustadz Hartono.
Pengkultusan tersebut, berdampak sangat besar hingga menjelma dalam rukun Iman dan rukun Islam Syi’ah yaitu konsep Imamah dan Al-wilayah.
“Jika seseorang tidak menerima konsep itu mereka dianggap kafir,” tandas Ustadz Hartono.
Maka, menjadi terang bahwa Syi’ah itu adalah firqoh adama (kelompok sesat) sebenarnya, yang merusak dan menghancurkan Islam dengan  mengangkat muatan lokal ajaran Parsi Mazdak lebih tinggi dari ajaran Islam, jelas Ustadz Hartono


Read More Add your Comment


Tuduhan Keji Syiah Terhadap Ahlus Sunnah




Di antara tuduhan keji yang dilontarkan oleh Syiah kepada umat Islam ialah seperti yang diriwayatkan oleh Al-Majlisi dalam Bihar Al-Anwar, jilid XXIV, hal. 311, bab. 67 dan oleh Al-Kulaini dalam Ar-Raudhah riwayat nomor 431, dari Imam Al-Baqir, bahwasanya ia berkata, “Demi Allah, wahai Abu Hamzah, sesungguhnya semua manusia itu anak-anak pelacur, kecuali golongan kita.” Diriwayatkan oleh Al-Iyasyi dalam Tafsir Al-Iyasyi, jilid. II, hal. 234, Daar At-Tafsir – Qumm Iran, dari Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq, bahwasanya ia berkata, “Setiap anak yang lahir pasti sedang didatangi iblis.

Jika tahu ia dari golongan kita, si iblis terhalang darinya. Dan jika tahu ia bukan dari golongan kita, si iblis akan memasukkan jari telunjuknya ke anus anak itu sehingga tersumbat. Jika anak itu laki-laki, iblis akan menyerang wajah. Dan jika anak itu perempuan, iblis akan mengincar kemaluannya yang nanti akan menjadi seorang pelacur.”
Diriwayatkan oleh Al-Majlisi dalam Bihar Al-Anwar, jilid XI, hal. 85, bab “Tentang Keutamaan Berziarah ke Kubur Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada Hari Arafah, Hari Raya Fithri dan Hari Raya Adha.” Dan juga diriwayatkan oleh Ash-Shaduq dalam Faqih Man La Yahdhuruhu Al-Faqih, jilid II, hal. 431, Tentang Pahala Ziarah ke Kubur Nabi dan Para Imam, Daar Al-Adhwa’ – Bairut, dari Abu Abdillah 'Alaihis salam, ia –perawi– berkata, “Sesungguhnya Allah lebih dahulu memandang para peziarah kubur Al-Husein pada sore Hari Arafah, sebelum Dia memandang orang-orang yang sedang wukuf di Arafah. Benarkah begitu?.” Ia menjawab, “Benar. Karena di antara orang-orang yang sedang wukuf di Arafah terdapat anak-anak zina. Sementara di antara para peziarah (kubur Husein) tersebut tidak terdapat anak-anak zina.”
Al-Allamah Abdullah Syibr dalam kitabnya Tasliyah Al-Fu’ad fi Bayan Al-Mauti wa Al-Ma’ad, hal. 162, Daar Al-A’lami – Bairut, menulis pasal yang ia beri nama, “Sesungguhnya pada hari kiamat nanti manusia akan dipanggil dengan menggunakan nama-nama ibu mereka, kecuali kaum Syiah.” Ia menuturkan beberapa riwayat, yang antara lain, “….Pada hari kiamat kelak manusia akan dipanggil dengan menggunakan nama-nama ibu mereka, kecuali golongan kami.

Sesungguhnya mereka (Syiah) akan dipanggil dengan menggunakan nama-nama ayah mereka, karena kelahiran mereka yang sangat bagus.”
Diriwayatkan oleh Al-Kulaini dalam Al-Kafi VI, hal. 391, Daar Al-Adhwa’ – Bairut, dari Ali bin Asbath, dari Abul Hasan Ar-Ridha 'Alaihis salam, ia berkata, “Aku pernah mendengar ia menyebut-nyebut Mesir, lalu mengatakan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah kalian makan dalam bejananya dan janganlah kalian membasuh kepala kalian dengan airnya, karena sesungguhnya hal itu dapat menghilangkan sifat cemburu dan menimbulkan sifat tidak punya rasa cemburu.”

A. Tuduhan Keji Syiah Terhadap Aisyah Radhiyallahu 'anha
Orang-orang Syiah menganggap bahwa firman Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi dalam surat At-Tahrim: 10,
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ
“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)." )Qs. At-Tahrim: 10).
Adalah menyinggung tentang Aisyah dan Hafshah Radhiyallahu 'anhuma.
Sebagian ulama Syiah menafsiri kalimat, Fakhaanataahumaa lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya masing-masing’ dalam firman Allah tadi, dengan melakukan perzinaan. Semoga Allah melindungi kita dari padanya.
Seorang tokoh ulama dan ahli tafsir Syiah, Al-Qummi dalam kitabnya Tafsir Al-Qummi ketika menafsiri ayat tadi mengatakan, “Demi Allah, yang dimaksud dengan kalimat, Fakhaanataahumaa lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya masing-masing’, tidak lain ialah berselingkuh atau tegasnya berbuat zina. Oleh karena itu, hukuman had harus dijatuhkan kepada si Fulanah atas kejahatan yang telah dilakukannya di jalan (   ). Dan si Fulan mencintainya, sehingga ketika si Fulanah hendak pergi ke …. Si Fulan berkata kepadanya, “Kamu tidak boleh pergi tanpa ditemani mahram. Akhirnya si Fulanah menyerahkan dirinya untuk dinikahi si Fulan.”
Saudara kami sesama Muslim, orang-orang Syiah mengamalkan taqiyah ketika mereka menggunakan kalimat fulanah, bukan menyebut langsung nama Aisyah. Atau mereka memakai kode tanda kurung kosong atau titik-titik. Semua itu termasuk cara taqiyah mereka.
Salah satu bukti yang menguatkan kalau yang dimaksud dengan kalimat fulanah adalah Aisyah, ialah riwayat-riwayat dusta yang dikemukakan oleh Syiah. Di sana disebutkan, “Sesungguhnya ketika turun firman Allah surat Al-Ahzab ayat 6,
النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka…” (Qs. Al-Ahzab: 6).
dan Allah mengharamkan kaum muslimin atas istri-istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sepeninggal beliau, Thalhah marah-marah. Ia mengatakan, “Kami diharamkan atas istri-istri Muhammad. Sementara ia bisa menikahi wanita-wanita kami. Seandainya nanti Muhammad telah dimatikan oleh Allah, kami akan benar-benar bergoyang di antara gelang-gelang istrinya, sebagaimana ia bergoyang di antara gelang-gelang wanita kami.”
Riwayat tadi juga dikemukakan oleh Al-Bahrani dalam Al-Burhan, jilid. III, hal. 333-334, oleh Sulthan Al-Janabidzi dalam Bayan As-Sa’adah, jilid III, hal. 253, Zainuddin An-Nabathi dalam As-Shirath Al-Mustaqim, jilid. III, hal. 23 dan 25.
Aisyah Radhiyallahu 'anha dituduh berbuat zina oleh seorang ulama Syiah yang bergelar Al-Hafidz Rajab Al-Barsi dalam kitabnya Masyariq Anwar Al-Yaqin, hal. 86, cet. Al-A’lami – Bairut, ia mengatakan, “Sesungguhnya Aisyah berhasil mengumpulkan uang sebanyak empat puluh dinar dari hasil perselingkuhan, lalu ia membagi-bagikannya kepada orang-orang yang membenci Ali.”
Aisyah Radhiyallahu 'anha dituduh berzina oleh seorang ulama Syiah, Al-Majlisi ketika ia mengemukakan suatu riwayat yang menyebutkan, bahwa Aisyah Radhiyallahu 'anha dan Ali Radhiyallahu 'anhu pernah tidur satu ranjang dan dalam satu selimut, dalam kitabnya Bihar Al-Anwar, jilid XI, Daar Ihya’ At-Turats Al-Arabi – Bairut. Riwayat selengkapnya ialah, Ali bercerita, “Aku bepergian bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau tidak membawa seorang pelayan pun selain aku. Dan beliau hanya membawa selembar selimut satu-satunya. Aisyah ikut bersama beliau. Beliau tidur dengan posisi diapit oleh Aisyah dan aku. Kami bertiga dalam satu selimut. Ketika bangun untuk melakukan shalat malam, beliau menurunkan selimut dengan tangannya dari bagian tengah antara aku dan Aisyah, sehingga selimut menyentuh alas yang ada di bawah kami.”

B. Tuduhan Keji Syiah Terhadap Umar Radhiyallahu 'anhu
Orang-orang Syiah menuduh bahwa Umar menderita penyakit di anusnya yang hanya bisa disembuhkan dengan air kencing laki-laki. Tuduhanya yang menjijikkan ini diceritakan oleh Al-Allamah Syiah, Ni’matullah Al-Jazairi dalam kitabnya Al-Anwar An-Nu’maniyah, jilid I, bab. I, hal. 63, cet. Al-A’lami – Bairut. Mereka juga menyatakan bahwa Umar suka disodomi.
Seorang ulama Syiah ahli tafsir Syiah, Al-Iyasyi dalam kitabnya Tafsir Al-Iyasyi, jilid. I, hal. 302 dan seorang ulama Syiah yang juga ahli tafsir, Al-Bahrani dalam kitabnya Al-Burhan, jilid I, hal. 416, bahwasanya seseorang menemui Abu Abdillah. Ia mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaika, wahai Amirul Mukminin.” Seketika Abu Abdillah berdiri dan berkata, “Jangan begitu. Itu tadi adalah nama yang hanya patut bagi Ali 'Alaihis salam. Siapapun selain beliau yang disebut seperti itu dan ia suka, berarti ia orang yang tidak punya rasa malu. Dan jika tidak suka, berarti ia sedang diuji. Dan itulah makna firman Allah dalam kitab-Nya surat An-Nisa’ ayat 117, “Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syetan yang durhaka.”
Orang itu bertanya, “Lalu apa yang harus aku ucapkan kepada Al-Qaim anda?”
Abu Abdillah menjawab, “Ucapkan kepadanya, ‘Assalamu ‘alaika, wahai yang sisa (keuntungan) dari Allah. Assalamu ‘alaika, wahai putra Rasulullah’.”
Padahal telah diketahui bahwa Umar Al-Faruq Radhiyallahu 'anhu adalah orang yang pertama kali dipanggil Amirul Mukminin.
Al-Allamah Syiah, Zainuddin An-Nabathi dalam kitabnya Ash-Shirath Al-Mustaqim, jilid. III, hal. 28, menghina Umar bin Khathab dengan mengatakan, “Asal usul Umar adalah orang jahat…. Neneknya adalah seorang pelacur.”

C. Tuduhan Keji Syiah Terhadap Utsman bin Affan Radhiyallahu 'anhu
Seorang ulama Syiah, Zainuddin An-Nabathi dalam kitabnya Ash-Shirath Al-Mustaqim, jilid. III, hal. 30, bahwasanya seorang perempuan dihadapkan kepada Utsman untuk dijatuhi hukuman had. Dan setelah menggauli perempuan tersebut, Utsman menyuruh untuk menjatuhkan hukuman rajam kepadanya.
Dalam sumber yang sama ia juga mengatakan, “Sesungguhnya Utsman Radhiyallahu 'anhu adalah orang yang bisa dipermainkan. Dan bahwasanya ia adalah seorang yang banci.”
Tuduhan keji tersebut juga dikemukakan oleh Ni’matullah Al-Jazairi dalam kitabnya Al-Anwar An-Nu’maniyah, jilid. I, bab. I, hal. 65, cet. Tauzi’ Al-A’lami – Bairut.
Referensi: Mengungkap Hakikat Syiah, Agar Tidak Terpedaya, Abdullah Al-Mushili, hal. 123-129.


Read More Add your Comment


Abu Hurairah Vs Jabir Al-Ju'fi



Abu Hurairah digugat!, Katanya karena meriwayatkan 5000 hadits hanya dengan tiga tahun masuk Islam. Tetapi ada perawi Syi’ah yang yang lebih dahsyat dari Abu Hurairah. Rupanya banyak teman Syi’ah –dan sunni– belum pada tahu tentang rahasia ini. Kita sering mendengar gugatan terhadap Abu Hurairah, seorang sahabat Nabi yang konon baru masuk Islam pada perang Khaibar. Mengapa Abu Hurairah digugat?, Karena Abu Hurairah yang hidup di Madinah selama tiga tahun sebelum wafatnya Nabi, meriwayatkan hadits lebih banyak dari Abu Bakar, yang masuk Islam pertama kali, dan lebih banyak dari Ali, orang yang beruntung dapat hidup di bawah asuhan Nabi Muhammad SAW. Konon Abu Hurairah meriwayatkan kurang lebih 5000 hadits sedangkan dia baru masuk Islam tiga tahun hingga Nabi SAW wafat, sedangkan Abu Bakar yang 22 tahun sebelum Nabi wafat riwayat haditsnya tidak sebanyak itu.
Salah satu pelopor gugatan ini adalah seorang ulama Syi’ah bernama Abdul Husein Syarafuddin Al-Musawi, yang menulis buku berjudul Abu Hurairah. Buku ini menjadi rujukan bagi Syi’ah untuk mengajak orang masuk madzhabnya dengan menjelek-jelekkan tokoh madzhab lain.
Logika ini digunakan untuk mengarahkan pembaca bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah adalah buatan sendiri, bukan hasil yang didengarnya dari Nabi. Lumrahnya, Abu Bakar lah yang mestinya meriwayatkan hadits Nabi lebih banyak ketimbang Abu Hurairah, begitu juga mestinya Ali meriwayatkan lebih banyak riwayat ketimbang Abu Hurairah, begitu juga dengan sahabat-sahabat Nabi lainnya. Namun di sini kita harus bersikap kritis dan tidak begitu saja percaya dengan logika sederhana ini. Apakah ada data-data yang belum disertakan, atau ada sebab-sebab lain hingga riwayat hadits dari Abu Bakar As-Shiddiq bisa sangat sedikit dibanding sahabat lain, apalagi dibanding Abu Hurairah.
Sebelum kita melanjutkan tentang Abu Hurairah ada baiknya anda simak kisah di bawah ini:
Pada suatu hari, seseorang sedang berada di angkot dalam perjalanan pulang dari kantor, seperti biasanya, angkot melaju pelan-pelan, sambil mengernyitkan dahi dia memandang ke arah penumpang angkot lainnya, tak lupa sambil menarik nafas panjang. Angkot berhenti di depan rumah sakit, seorang ibu naik bersama anaknya, sepanjang jalan anaknya gelisah, berteriak-teriak dengan suara keras, dia menolehkan kepalanya ke arah si anak dan memandangnya dengan pandangan kesal. Begitu juga penumpang lainnya. Beban pekerjaan di kantor, perjalanan yang macet, masih harus ditambah dengan suara gaduh anak kecil dalam angkot. Anehnya, si ibu memandang ke jalanan dengan pandangan kosong. Seorang penumpang dengan sewot mengatakan: “Ibu, tolong lah bu, anak anda begitu mengganggu”. Si ibu sepertinya kaget, lalu dengan lirih bergumam: “Maaf pak, ayahnya baru saja meninggal dunia, barangkali dia masih belum bisa menerima kenyataan ini”.
Barangkali pembaca pernah membaca cerita di atas. Barangkali juga belum. Cerita di atas adalah “Versi Indonesia” dari kisah yang mirip dan mungkin terjadi di dunia barat sana. Ternyata pikiran kita sangat mempengaruhi persepsi kita terhadap sesuatu. Yang sering tertipu ternyata bukan hanya mata, pikiran pun juga dapat tertipu. Pikiran bisa menipu kita ketika kita kekurangan data, atau ada sisi-sisi dari peristiwa yang belum kita ketahui. Segala sesuatu memiliki peluang untuk kita pahami secara berbeda. Dua orang bisa memiliki persepsi dan pemahaman yang berbeda dalam menilai sesuatu. Bahkan kita sendiri bisa dengan cepat merubah penilaian kita terhadap suatu peristiwa, contohnya seperti kisah di atas. Artinya bisa jadi penilaian kita terhadap sesuatu bukanlah hasil final, yang mencerminkan keadaan sesuatu itu yang sebenarnya.
Bisa jadi asumsi yang tercipta di benak kita keliru.
Mengapa Abu Hurairah meriwayatkan hadits lebih banyak dari Abu Bakar? Singkatnya, karena Abu Bakar wafat dua tahun setelah Nabi wafat, hingga tidak memiliki banyak murid seperti Abu Hurairah yang wafat tahun 57 H. Abu Hurairah memiliki murid yang banyak, disebutkan bahwa 800 orang baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in pernah mendengar hadits Nabi dari Abu Hurairah. Bisa dilihat dalam kitab Al-Isti’ab, Siyar A’lam Nubala, Hilyatul Auliya, Tahdzibul Kamal dan kitab-kitab lainnya. Maka tidaklah mengherankan jika riwayat Abu Hurairah sedemikian banyak tersebar dalam kitab-kitab hadits, jauh lebih banyak dibanding riwayat Abu Bakar. Begitu juga Ali, yang tidak memiliki murid sebanyak Abu Hurairah, namun riwayat Ali dalam kitab Ahlus Sunnah lebih banyak dari riwayat Abu Bakar, Umar dan Utsman.
Juga Abu Hurairah selama tiga tahun kehidupannya di Madinah tinggal di masjid, termasuk mereka yang disebut sebagai Ahlus Suffah, yang tidak memiliki pekerjaan. Maka Abu Hurairah menggunakan kesempatan itu untuk menimba ilmu dari Nabi. Sementara sahabat lainnya tidak memiliki waktu luang seperti Abu Hurairah, hingga Ibnu Umar pun pernah berkata pada Abu Hurairah, seperti dalam Sunan At-Tirmidzi: “Wahai Abu Hurairah, engkau adalah orang yang paling sering bersama Rasulullah SAW dan orang yang paling mengetahui haditsnya di antara kami.”
Demikian keterangan singkat mengenai Abu Hurairah.
Namun seperti yang kami jelaskan di atas, ada yang lebih “dahsyat” dari Abu Hurairah, yang dapat meriwayatkan 70.000 hadits dalam sekali pertemuan!!! Siapa dia?
Dialah Jabir Al-Ju’fi. Al-Hurr Al-Amili dalam Wasa’il Syi’ah, jilid. 20, hal. 151 mengatakan: “Dia meriwayatkan tujuh puluh ribu (70.000) hadits dari Al-Baqir, dan meriwayatkan seratus empat puluh ribu (140.000) hadits, nampaknya tidak ada perawi yang meriwayatkan hadits dari para imam secara langsung, yang lebih banyak dari Jabir.”
Sedangkan jumlah hadits dalam 4 literatur utama Syi’ah adalah sekitar 44.244 hadits, seperti tercantum dalam A’yanus Syi’ah, jilid. 1, hal. 248. Berarti bisa dibilang sebagian besar riwayat dalam literatur hadits Syi’ah adalah melalui perawi yang satu ini.
Lalu pertanyaannya, berapa lama Jabir Al-Ju’fi  menimba ilmu dari Abu Ja’far? Kita simak jawabannya dalam Rijalul Kisyi, jilid. 2, hal. 437, yang ditahqiq oleh Sayid Mahdi Raja'i, terbitan Muassasah Alul Bait ‘Alaihimus salam, Ja’far As-Shadiq mengatakan: “Aku hanya melihat dia menemui ayahku sekali saja, dia belum pernah masuk menemuiku sama sekali.” Lalu dari mana Jabir Al-Ju’fi meriwayatkan puluhan ribu hadits jika hanya sekali bertemu Abu Ja’far?
Jika Abdul Husein Al-Musawi bisa menerima Jabir Al-Ju’fi, bahkan memujinya seperti dalam Al-Muraja’at (yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul: Dialog Sunnah - Syi’ah), lalu mengapa Abu Hurairah digugat?


Read More Add your Comment


Siapa Menipu Imam Husein?



Imam Husein ditipu? Siapa yang bilang? Ternyata anda belum tahu semuanya, Banyak fakta tersembunyi menyelimuti peristiwa Karbala, tapi sepandai-pandai bangkai disembunyikan, lama-lama baunya tercium juga. Apa sebenarnya penyebab tragedi Karbala? Mengapa cucu Nabi yang satu ini hidupnya berakhir tragis? Banyak pembaca menunggu-nunggu artikel kami yang terlambat muncul, asal pembaca tahu saja, kami pun ikut menunggu-nunggu, menunggu rudal Iran dan Hizbullah menghujani Israel yang membantai saudara-saudara kita di Gaza, tapi sampai Israel mundur tidak ada satu pun rudal mereka yang jatuh di tanah Israel. Karena kami akan menulis artikel khusus mengenai hal ini. Pembaca harus ingat, kita tidak mungkin menyatakan agama Kristen adalah agama yang benar, hanya karena Hugo Chavez dan Morales memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel.
Alhamdulillah, anak cucu Abu Bakar dan Umar di Gaza berhasil merontokkan perlawanan Israel, tanpa bantuan Iran dan Hizbullah. Asal pembaca tahu saja, Palestina masuk ke wilayah kaum Muslimin pada era Umar bin Khattab, Umar sendiri yang menaklukkan kota Al-Quds, yagn juga dikenal dengan nama Baitul Maqdis, tanah suci para Nabi.
Mari kita sambung lagi pembahasan kita....
Imam Husein adalah Imam kaum muslimin, cucu Nabi SAW. kita tidak perlu menukil dalil yang berisi perintah untuk mencintai keluarga Nabi. Kita mencintai Imam Husein karena kita mencintai kakeknya.
Seperti sabda kakeknya, Imam Husein – beserta sang kakak, Imam Hasan – adalah pimpinan pemuda penghuni surga, tentunya kita semua ingin masuk Surga. Namun berita itu mengandung perintah bagi kita untuk mengikuti jalan hidup Imam Husein, karena jalan hidup Imam Husein akan membawa kita ke Surga. Isi isyarat itu jika kita terjemahkan ke bahasa kita hari ini kira-kira bunyinya menjadi begini: “Kalau mau ke Surga, ikuti Imam Husein”. Inilah inti pesan dari hadits Nabi yang memberitakan jaminan Surga terhadap beberapa person. Asal pembaca tahu saja, yang dijamin Surga bukan hanya Imam Husein saja, jaminan Surga juga ada pada ayat Al-Qur’an:
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah :100).
Membicarakan kehidupan Imam Husein tidak bisa lepas dari peristiwa tragis yang menjadi awal kehidupan akherat baginya, yaitu peristiwa pembantaian yang terjadi di Karbala. Sudah semestinya setiap muslim bersedih atas peristiwa tersebut. Bagaimana cucu Nabi yang dicintainya, dibantai dengan darah dingin tanpa kasih sayang. Namun peristiwa itu menjadi awal bagi kehidupan akherat, menyusul kakeknya Muhammad SAW, beserta ayah - ibunya. Berbahagia di alam akherat, seperti yang dijanjikan Allah lewat lisan kakeknya.
Membicarakan peristiwa Karbala tak akan lengkap sekiranya kita hanya memfokuskan pada peristiwa pembantaian itu saja, tanpa pernah mengikuti episode sejarah sebelumnya. Hingga penilaian kita tidak akan bisa utuh, karena tidak berdasarkan fakta yang utuh, yang memberi kita gambaran tentang bagaimana peristiwa itu terjadi. Ini menimbulkan tanda tanya, dan kesan yang ditangkap adalah episode ini sengaja untuk tidak terlalu dibahas panjang lebar. Barangkali ini sebabnya mengapa episode sebelum peristiwa Karbala terjadi sangat jarang diulas, mereka yang selalu mengulas dan menganalisa kisah Karbala jarang menyinggung peristiwa yang terjadi sebelumnya, yang mengakibatkan cucu Nabi ini dibantai.
Satu peristiwa tidak bisa lepas dari peristiwa sebelumnya sebagai satu rangkaian peristiwa yang saling berhubungan, tentunya tidak bisa dipisahkan begitu saja, apa yang terjadi saat ini adalah bagaikan memisahkan ayat dan (sebab turunnya ayat) sabab nuzulnya. Memisahkan peristiwa Karbala dengan peristiwa-peristiwa yang sebelumnya terjadi, yang akhirnya ikut menyebabkan terjadinya pembantaian Karbala. Tapi sayang peristiwa itu seolah terkubur di telan bumi, jarang kita mendengar tentang peristiwa-peristiwa yang melatar-belakangi dan merangkai pembantaian Karbala. Barangkali bisa kita mulai dari pertanyaan penting, yang sayangnya jarang kita dengar. Barangkali akal sehat kita sering tertutupi oleh kesedihan kita yang mendalam, yang barangkali kita buat-buat sendiri, dengan mendengarkan kisah-kisah sedih pembunuhan Imam husein, dengan diberi bumbu suara yang menyayat hati dan sebagainya akhirnya kita lupa bertanya:
Mengapa peristiwa itu terjadi? Peristiwa apa yang menjadi latar belakang peristiwa itu? mengapa Imam husein berangkat ke Karbala? Barangkali pertanyaan terakhir ini menjadi titik awal bagi perjalanan kita kali ini untuk menelusuri peristiwa-perstiwa yang melatar-belakangi peristiwa Karbala.
Peristiwa ini diawali ketika Yazid menggantikan Muawiyah yang mangkat dan segera meminta agar Husein berbaiat. Namun husein menolak bersama Abdullah bin Zubair, dan keduanya pergi diam-diam ke kota Mekah. Seperti kita ketahui bahwa Imam Husein adalah salah satu figur umat Islam karena hubungan kekerabatannya dengan Nabi, seluruh umat Islam mencintainya, dari dulu hingga hari ini, hanya orang menyimpang dan menyimpan penyakit di hatinya saja yang membenci keluarga Nabi. Hingga ketika dia menolak berbaiat maka kabar beritanya tersebar ke segala penjuru, di antara mereka yang mendengar kabar berita mengenai Imam husein adalah warga Kufah. Lalu mereka mengirimkan surat-surat kepada Imam husein mengajaknya untuk datang ke Kufah dan memberontak kepada Yazid. Surat-surat itu begitu banyak berdatangan kepada Imam, hingga jumlahnya mencapai puluhan ribu.
Ahmad Rasim Nafis – seorang penulis syiah – menerangkan: "Surat-surat penduduk Kufah kepada Husein ‘Alaihis salam, menyatakan: "Kami tidak memiliki Imam, oleh karena itu datanglah, semoga Allah berkenan mempersatukan kita di atas kebenaran." Surat-surat itu mengandung berbagai tanda tangan menghimbau kedatangannya untuk menerima bai'at dan memimpin umat dalam rangka menghadapi para pendurhaka bani Umayah. Begitulah, kian sempurnalah unsur-unsur pokok bagi gerakan Huseiniyah. Di antaranya: … Adanya hasrat mayoritas masyarakat yang menuntut reformasi dan mendorong Imam Husein untuk segera memegang tampuk kepemimpinan bagi gerakan tersebut. Juga peristiwa dorongan-dorongan di Kufah ini diungkapkan di dalam surat-surat baiat dari penduduk Kufah." (Lihat: 'Alaa Khutha Husain, hal. 94).
Muhammad Kadhim Al-Qazwaini – seorang ulama syiah – menyatakan: "Penduduk Irak menulis surat kepada Husein, mengirim utusan, dan memohon agar beliau berangkat ke negeri mereka untuk menerima baiat sebagai khalifah, sehingga terkumpul pada Husein sebanyak 12.000 surat dari penduduk Irak yang semuanya berisikan satu keinginan. Mereka menulis: "Buah sudah ranum, tanaman sudah menghijau, Anda hanya datang untuk menjumpai pasukan anda yang sudah bersiaga. Anda di Kufah memiliki 100.000 (seratus ribu) pedang. Apabila Anda tidak bersedia datang, maka kelak kami akan menuntut Anda di hadapan Allah." (Lihat: Faaji'atu Ath-Thaff, hal. 6).
Seorang ulama syiah, Abbas Al-Qummi menerangkan: "Melimpah ruahlah surat-surat sehingga terkumpul pada beliau di dalam satu hari sebanyak 600 surat berisikan janji hampa. Dalam pada itu pun beliau menunda-nunda dan tidak menjawab mereka. Sehingga terkumpul pada beliau sebanyak 12.000 surat.” (Lihat: Muntaha Al-Amaal: 1/430).
Ribuan – tepatnya puluhan ribu – surat yang berdatangan berhasil meyakinkan Husein mengenai kesungguhan penduduk Kufah.  Husein mengutus Muslim bin Aqil untuk mengecek keadaan kota Kufah dan melihat sendiri apa yang terjadi di sana. Dan ternyata benar, sesampainya Muslim disana ternyata banyak orang berbaiat pada Muslim untuk “membela” Imam Husein melawan penguasa zhalim. Mereka menunggu kedatangan sang Imam untuk memimpin mereka.
Ridha Husein Shubh Al-Huseini – seorang penulis syi'ah – mengatakan: "Lalu Muslim berangkat dari Mekah pada pertengahan bulan Sya'ban, dan tiba di Kufah selepas lima hari bulan Syawal. Orang-orang Syi'ah berdatangan berbaiat kepadanya, sehingga jumlah mereka mencapai 18.000 orang. Sedang di dalam riwayat Asy-Sya'bi, jumlah orang yang berbaiat kepadanya mencapai 40.000 orang.”  (Lihat: Asy-Syii'ah wa Asyuura, hal. 167).
Dari situ ia mulai menerima masyarakat. Dan menyebarluaslah seruan agar berbaiat kepada Husein ‘Alaihis salam, sehingga jumlah orang-orang yang "bersumpah setia sampai mati" mencapai 40.000 orang. Ada juga yang mengatakan, kurang dari jumlah tersebut. Gubernur Yazid yang berada di Kufah ketika itu adalah An-Nu'man bin Basyir. Sebagaimana disifati (digambarkan) oleh para sejarawan, gubernur ini seorang muslim yang tidak menyukai perpecahan dan lebih mengutamakan kesejahteraan." (Lihat: Siiratul Aimmati Al-Itsna 'Asyar: 2/57-58).
Seorang ulama Syi'ah, Abdur Razaq Al-Musawi Al-Muqarram menerangkan: "Orang-orang Syi'ah menjumpai Muslim di rumah Al-Mukhtar dengan sambutan hangat dan menampilkan sikap taat dan patuh. Sikap yang membuat ia lebih gembira dan lebih bersemangat…, selanjutnya orang-orang Syi'ah pun datang saling berbaiat kepadanya sampai tercatat sejumlah 18.000 orang. Bahkan ada yang mengatakan sampai sejumlah 25.000 orang. Sedang di dalam riwayat Asy-Sya'bi dinyatakan, orang-orang yang berbaiat kepadanya berjumlah 40.000 orang. Kemudian Muslim menulis surat kepada Husein bersama Abs bin Syabib Asy-Syakiri, memberitakan kepada beliau tentang kesepakatan penduduk Kufah untuk patuh dan mereka yang menanti-nanti. Di dalamnya ia menyatakan: "Seorang penunjuk jalan tidak akan mendustai keluarganya sendiri. Bahkan sudah terdapat 18.000 orang penduduk Kufah yang berbaiat kepadaku…" (Lihat: Maqtal Husain, karya Al-Muqarram, hal. 147 dan Ma'saatu Ihda wa Sittiin, hal. 24).
Abbas Al-Qummi juga menerangkan: "Melalui riwayat yang lalu, membuktikan bahwa orang-orang Syi'ah dengan diam-diam menjumpai Muslim di rumah Hani, secara rahasia. Lalu mereka pun saling mengikutinya, dan Muslim menekankan kepada tiap-tiap orang yang berbaiat kepadanya agar tutup mulut dan merahasiakan hal itu, sampai jumlah orang yang berbaiat kepadanya mencapai 25.000 laki-laki. Sementara Ibnu Ziyad masih belum mengetahui posisinya…” (Lihat: Muntaha Al-Amaal: 1/437).
Sampai di sini barangkali anda membayangkan bagaimana puluhan ribu orang bersiap siaga untuk menyambut kedatangannya, bagaimana mereka mempersiapkan persenjataan untuk “melawan penguasa zhalim” di bawah pimpinan sang Imam. Tapi jangan berhenti membaca di sini, ternyata ending kisah tak seindah yang anda bayangkan.
Melihat sambutan penduduk Kufah yang begitu menggembirakan, Muslim mengirim surat pada Husein untuk segera datang. Tapi apa yang terjadi, Yazid mengutus Ubaidilah bin Ziyad, untuk “menertibkan” kota Kufah, hingga akhirnya menangkap Muslim bin Aqil dan beberapa tokoh yang mengajak untuk berbaiat pada Imam husein. Ternyata satu orang saja dapat menertibkan ribuan orang di Kufah yang telah berbaiat pada Imam Husein untuk melawan orang-orang “zhalim”. Nyali mereka menjadi ciut dan melupakan baiat mereka pada Imam Husein.
Ulama Syi'ah, Muhammad Kadhim Al-Qazwaini menerangkan: "Lalu Ibnu Ziyad masuk Kufah. Ia mengirim utusan kepada para ulama setempat dan pimpinan pimpinan kabilah, mengancam mereka dengan datangnya pasukan dari Syam, dan memikat mereka, sehingga mereka pun berpisah-pisah meninggalkan Muslim sedikit demi sedikit sehingga tinggal Muslim seorang diri.” (Lihat: Faaji'atu Ath-Thaff, hal. 7 dan pernyataan serupa juga tersebut di dalam kitab "Tadhallum Az-Zahra”, hal. 149).
Puluhan ribu orang yang membaiat Imam Husein, baik melalui surat maupun yang berbaiat langsung akhirnya “keok”  hanya dengan digertak oleh Ibnu Ziyad. Keinginan mereka untuk menolong Imam Husein seketika sirna karena mendengar gertakan Ibnu Ziyad. Mereka lebih suka duduk di rumah beserta anak istri ketimbang berperang bersama Imam Husein melawan tentara Yazid. Rupanya itulah kualitas mental “pembela Ahlul Bait Nabi”.
Ibnu Ziyad mengutus tentara untuk mencegat Imam Husein, hingga terjadilah proses negosiasi.
Ayatullah Muhammad Taqiy Ali Bahri Al-Ulum – seorang ulama syiah – menerangkan: "Husein keluar seraya mengenakan kain, selendang, sepasang sendal, dan bersandar pada penghulu pedang beliau. Lalu beliau menghadapi kelompok tersebut, memuji dan menyanjung Allah, lalu berkata: "Dengan merendahkan diri kepada Allah 'Azza wa Jalla dan juga kepada kalian. Sebenarnya saya tidak datang kepada kalian sehingga datang kepada saya surat-surat kalian. Dan dinyatakan oleh utusan-utusan kalian: "Datanglah kepada kami karena kami tidak memiliki Imam. Semoga Allah berkenan mempersatukan kita di atas petunjuk." Jika kalian memang bersikap seperti itu, maka sekarang kami datang kepada kalian, maka penuhilah janji dan ikrar kalian dengan sikap yang baik. Tetapi sekiranya kalian tidak menyukai kehadiranku, maka saya pun akan meninggalkan kalian kembali ke tempat di mana saya berangkat." Mereka pun terdiam semuanya. Lalu Al-Hajjaj bin Masruq Al-Ju'fi menyerukan shalat Dhuhur. Kemudian Husein berkata kepada Hurr: "Apakah Anda hendak berlaku sebagai Imam shalat sahabat-sahabat Anda?" Ia menjawab: "Tidak: "Tetapi kami semuanya akan bermakmum kepada Anda." Kemudian Husein pun berlaku sebagai Imam shalat atas mereka. Seusai shalat, beliau menghadap mereka, memuji dan menyanjung Allah, dan bersholawat kepada Nabi Muhammad, beliau berkata: "Wahai hadirin, sekiranya kalian bertakwa kepada Allah dan memahami hak-hak ahli-Nya, niscaya itu lebih diridhai Allah. Kami adalah Ahlul Bait Muhammad SAW, lebih layak untuk menduduki jabatan ini dibanding mereka yang merasa memiliki apa-apa yang tiada pada mereka. Dan mereka orang-orang yang suka melakukan kejahatan dan permusuhan. Tetapi sekiranya kalian merasa enggan dan tidak menyukai kami, tidak memahami hak-hak kami, dan sekarang kalian berpendapat (dengan pendapat baru) yang berbeda dengan pernyataan pernyataan surat-surat kalian. Kami akan pergi meninggalkan kalian."
Hurr berkata: "Saya tidak mengerti tentang surat-surat yang Anda sebutkan itu?" Lalu Husein memerintahkan kepada Uqbah bin Sam'an (agar mengeluarkan surat-surat tersebut). Ia pun mengeluarkan dua kantung penuh dengan surat-surat."
Hurr berkata: "Saya bukan dari golongan mereka. Bahkan saya diperintah untuk tidak berpisah dari Anda apabila bisa menjumpai Anda sampai saya membawa Anda ke Kufah menjumpai Ibnu Ziyad." Husein menjawab: "Maut lebih dekat pada diri Anda dari pada melaksanakan hal itu." Lalu beliau memerintahkan sahabat-sahabat beliau agar menunggangi kendaraan, para wanita pun sudah menunggangi kendaraan. Tetapi tiba-tiba Hurr melarang mereka pergi menuju ke Madinah." Husein berkata kepada Hurr: "Celakalah ibumu!, apakah yang kalian harap dari kami?" Hurr berkata: "Sekiranya yang mengucapkan kata-kata itu orang Arab lain selain Anda, dan ia dalam posisi seperti Anda sekarang, niscaya tidak akan kubiarkan ia menyebut celaka terhadap ibunya, betapa pun alasannya. Demi Allah, saya tidak memiliki kemampuan untuk menyebut ibu Anda, kecuali dengan ucapan yang baik dan kami hormati. Tetapi sekarang silahkan ambil jalan tengah yang mana tidak memasukkan Anda ke Kufah dan bukan ke arah Madinah, sehingga saya dapat menulis surat kepada Ibnu Ziyad. Semoga allah berkenan mengaruniakan kesejahteraan kepada kita, dan saya pun tidak mendapat musibah lantaran persoalan Anda ini." (Lihat: Waaqi'atu Ath-Thaff, karya Bahru Al-'Ulum, hal. 191-192).
Imam Husein terhenyak, ternyata dia telah ditipu mentah-mentah oleh kaum syi’ah yang berbaiat kepadanya.

Abbas Al-Qummi menerangkan: Ibnul Hurr mengatakan: "Wahai putra Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam wa aalih, sekiranya di Kufah terdapat Syi'ah (sejati) dan para pembela yang akan berperang bersama Anda, niscaya saya orang yang paling mengetahuinya. Tetapi saya mengetahui bahwa Syi'ah Anda di Kufah itu telah meninggalkan rumah-rumah mereka masing-masing karena takut kepada pedang-pedang bani Umayah." Husein tidak menjawab ucapan itu, dan beliau ‘Alaihis salam berlalu… (Abbas Al-Qummi menerangkan peristiwa tersebut di dalam Muntaha Al-Amaal: 1/466 Juga terdapat pada catatan pinggir (haamisy) hal. 177 dalam buku An-Nafsu Al-Mahmuum. Sedang lafalnya pada kitab rujukan yang kedua).
Abbas Al-Qummi menerangkan: "Lebih lanjut perhatikanlah (maksudnya; Husein), sehingga ketika tiba waktu sahur, beliau berkata kepada bujang-bujang dan pelayan pelayan beliau: "Perbanyaklah air, sehingga kalian memiliki persediaan minum. Dan perbanyak lagi, kemudian berangkatlah. Lalu beliau melakukan perjalanan. Sehingga ketika beliau sampai di tempat sampah, datang kepada beliau berita tentang Abdullah bin Yaqthar. Kemudian beliau mengumpulkan para sahabat beliau. Mengeluarkan sepucuk surat di hadapan hadirin, dan beliau membacakannya di hadapan mereka. Ternyata tertulis di dalamnya sebagai berikut: "Bismillahirrahmanirrahim. Lebih lanjut, telah datang berita buruk kepada kami, Muslim bin Aqiil dibunuh, Hani bin Urwah, dan juga Abdullah bin Yaqthar. Kita telah ditinggalkan oleh Syi'ah kita sendiri. Barangsiapa di antara kalian hendak pulang, silahkan pulang tanpa dipersalahkan dan tanpa dibebani sangsi."
Kemudian para hadirin pun bercerai-berai meninggalkan beliau, yaitu dari kalangan orang-orang yang mengikuti beliau demi memperoleh harta rampasan dan kehormatan. Sehingga beliau hanya tinggal bersama Ahlul Bait beliau dan para sahabat-sahabat beliau yang tetap memilih tinggal dan patuh bersama beliau atas dasar yakin dan iman." (Muntaha Al-Amaal: 1/462, Majlisi dalam Bihaarul Anwar: 44/374, Muhsin Al-Amin dalam Lawaaij Al-Asyhaan, hal. 67, Abdul Husein Al-Musawi dalam Al-Majaalis Al-Faakhirah, hal. 85 dan Abdul Hadi Ash-Shalih dalam Khoirul Ashhaab, hal. 37 dan 107).
Ahmad Rasim An-Nafis mengutipkan kepada kita beberapa pantun Husein Radhiyallahu ‘anhu yang dikutip dari kitab "Al-Ihtijaaj" (2/24) dan peringatan beliau kepada Syi'ah (para pengikut) beliau yang telah mengundang beliau (dengan janji) hendak membelanya, tetapi kemudian meninggalkannya. Kata beliau: "Ketika itu mereka secara terus menerus merisaukan Abu Abdillah Husein, agar beliau tidak dapat menyelesaikan ibadah haji beliau. Lalu beliau berkata kepada mereka dengan murka: "Mengapa kalian tidak bersedia diam terhadapku dan mendengar tutur kataku? Sebenarnya saya mengajak kalian ke jalan lurus, sehingga orang-orang yang bersedia mengikutiku akan menjadi orang-orang yang beroleh bimbingan, sedang yang durhaka kepadaku akan menjadi orang-orang yang dibinasakan. Kalian semua telah berbuat durhaka terhadap perintahku, tidak mendengar ucapanku. Kiranya barang-barang yang kalian terima berlimpah barang haram, perut-perut kalian pun dipenuhi oleh barang haram, sehingga Allah menutup hati kalian. Celakalah kalian, mengapa kalian tiada bersedia tutup mulut? Mengapa tidak bersedia mendengar?" ……, lalu para hadirin pun diam. Selanjutnya beliau ‘Alaihis salam berkata lagi: "Celakalah kalian wahai jemaah. Kalian campakkan apa-apa yang telah kalian serukan kepada kami. Kami dapati kalian dalam keadaan lemah, lalu kami pun menyeru kalian dengan siap siaga. Lalu kalian hunuskan pedang ke arah leher-leher kami. Kalian sulutkan bara api fitnah ke atas kami, sehingga menjadi peluang bagi musuh-musuh kami dan musuh kalian sendiri. Lalu kalian pun menjadi perintang orang-orang yang hendak melindungi kalian, dan pula menjadi tangan bagi musuh-musuh kalian. Tanpa adanya keadilan berlaku di antara kalian. Tak ada pula harapan kalian terhadap mereka kecuali harta duniawi haram yang akan kalian peroleh, kehidupan seorang pengecutlah yang kalian dambakan…, alangkah buruk moral kalian. Sebenarnya kalianlah para pendurhaka di antara umat ini, kelompok paling jahat, pencampak Al-Kitab (Al-Qur’an), sarana bisik-bisikan setan, golongan para pendosa, pemanipulasi Al-Qur’an, pemadam sunah-sunah, dan pembunuh putra-putri para Nabi, '(Lihat: Ala Khutha Husain, hal. 130-131).
Marilah kita perhatikan bagaimana Imam Husein Radhiyallahu ‘anhu menyebutkan sifat-sifat kaum Syiah yang ingin membela keluarga Nabi:
"Pendapatan kalian dipenuhi barang-barang haram."
"Perut-perut kalian dipenuhi barang-barang haram."
"Allah menutup hati kalian."
Imam husein ditipu mentah-mentah sebelum dibantai secara tragis. Siapa yang menipunya? Siapa yang memanggil sang Imam lalu meninggalkannya? Mari kita simak lagi pengakuan Imam Husein, yang lebih tahu tentang kondisi syiahnya dibanding kita semua:
Kita telah ditinggalkan oleh Syiah kita sendiri.
Peristiwa Karbala terulang lagi di Gaza. Iran dan Hizbullah selalu mengancam akan membumihanguskan Israel, bahkan dengan gagah perkasa presiden Ahmadi Nejad mengancam untuk menghapus Israel dari peta dunia. Begitu juga Hasan Nasrullah selalu mengancam Israel dengan khotbahnya yang berapi-api.
Kaum muslimin di dunia banyak yang silau dengan khotbahnya yang berapi-api. Kita bisa memaklumi kaum muslimin yang awam dan merindukan figur pejuang yang mengembalikan kemuliaan Islam. Tapi sepertinya kaum muslimin salah sangka.
Mestinya Hizbullah langsung menghujani Israel dengan rudal-rudal Iran yang canggih dan menjangkau sasaran jarak jauh. Mestinya Iran menggunakan rudal-rudal canggihnya ke arah Tel Aviv. Tapi ternyata hanya mimpi yang kita dapat.
Iran yang mengancam akan menghentikan ekspor minyak, mengancam menutup selat Hormuz ketika Amerika akan menyerangnya, ternyata diam saja ketika Gaza diserang. Rupanya Iran hanya menggunakan propaganda untuk sekedar meramaikan suasana dan mencari dukungan dari kaum muslim dunia.
Iran Bukan sekedar diam saja, malah melarang orang pergi berjihad ke Gaza. Ali Khamene’i, yang diyakini oleh syiah sebagai “Waliy Amr” kaum muslimin, ternyata melarang orang untuk berjihad ke Gaza. Asal pembaca tahu saja, Khamenei ini diyakini oleh syiah menjadi wakil dari Imam Mahdi yang bersembunyi. Jika anda ingin melihat sumber pernyataan saya ini, silahkan cari keyword: iran bans volunteers di google. Atau jika anda bisa berbahasa arab silahkan ketik keyword ini di google:
يمنع المتطوعين من القتال بغزة
Mestinya Iran mengirimkan pasukan daratnya untuk menyerang Israel dari daratan Lebanon selatan yang menjadi “daerah kekuasaan” Hizbullah. Karena Israel pasti takut pada Iran.
Tapi rupanya inilah sifat dasar syiah sejak zaman Imam Husein, kita harus percaya pada Imam Husein yang "ma’shum".


Read More Add your Comment


Bahkan Sayidina Ali Pun Mengusir Abdullah Bin Saba



Apa yang Anda ketahui tentang pendiri Syiah: Abdullah bin Saba? Seorang Yahudi dari Yaman, Arabia, abad ketujuh, yang menetap di Madinah dan memeluk Islam—yang pada beberapa bagian sejarah, keislamannya sangat dipertanyakan. Setelah mengkritik buruknya administrasi Kalifah Ustman, ia dibuang dari ibukota. Kemudian ia pergi ke Mesir, di mana ia mendirikan sebuah sekte anti-Utsman, untuk mempromosikan kepentingan Ali. Mengetahui ia memperoleh pengaruh yang besar di situ, mengingat Ali adalah keponakan Rasulullah. Padahal, bahkan Ali sendiri pun mengusirnya ke Madain. Setelah Ali wafat, Abdullah bin Saba terus-menerus menghembuskan isyu kepada orang-orang bahwa Ali tidak mati, tapi masih hidup, dan tidak pernah terbunuh. Ia menghembuskan kabar bahwa sebagian dari sifat Ketuhanan ada dalam diri Ali, dan bahwa setelah waktu tertentu ia akan kembali untuk memerintah bumi dengan adil. Untuk mengacaukan Islam, Yahudi menyusun rencana untuk menambah dan menghapus hal-hal dari keyakinan Islam yang murni, Abdullah bin Saba memainkan peran penting dalam konspirasi ini, dan selama berabad-abad kita telah menyaksikan manifestasi dari distorsi bid'ah dalam ajaran Syiah. Sejarah juga mencatat bahwa Syiah menghina agama Islam, dan menyatakan bahwa mereka adalah musuh nomor satu Muslim. Mereka sepenuhnya bekerja sama dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam menghancurkan Iraq dan Afghanistan. Dalam semua sejarah Islam, Syiah selalu saja menikam Islam dari belakang. Lantas, bagaimana dengan wacana Iran yang anti-Israel dan Amerika? Hal itu sudah sejak lama diyakini sebagai sebuah retrorika belaka. Orang-orang Syiah selalu mengagungkan Ali—melampui terhadap Rasulullah Muhammad saw. Padahal Ali yang disebut sebagai singa Islam, yang berjuang untuk membela kehormatan Islam dan umat Islam, tidak pernah bekerja sama dengan musuh-musuh Islam, apalagi menumpahkan darah dan menjarah kekayaan Muslim


Read More Add your Comment


Konspirasi Rahasia Di Balik Tragedi Karbala dan Terbunuhnya Husain



Al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, atau yang dikenal sebagai Husain Radhiyallahu ‘anhu, adalah cucu Rosululloh Shallalahu alaihi wa sallam, buah hati dan kecintaannya di dunia. Ia adalah saudara Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, penghulu pemuda penduduk surga. Kedudukan tinggi tersebut tidak ia peroleh, kecuali ia lakoni dengan ujian dan cobaan, dan sungguh Husain Radhiyallahu ‘anhu telah berhasil melewati ujian tersebut secara penuh dengan kesabaran dan keteguhan (tsabat) yang sempurna hingga menemui Alloh Subhanahu wa Ta'ala.

Rosululloh Shallalahu alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu, “Sesungguhnya ini adalah malaikat yang belum pernah turun ke bumi sebelum ini, ia meminta izin kepada Robbnya untuk mengucapkan salam kepadaku dan menyampaikan kabar gembira bahwa Fathimah adalah penghulu kaum wanita penghuni surga dan bahwasanya Hasan serta Husain adalah penghulu para pemuda penghuni surga.” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani). Husain Radhiyallahu ‘anhu dan Kronologis Syahidnya Setelah kekhilafahan dilimpahkan kaum Muslimin kepada Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu 'anhu, kemudian ia turun (lengser) darinya untuk diberikan kepada Mu’awiyah Radhiyallahu 'anhu untuk memelihara darah kaum Muslimin, dengan syarat selanjutnya Mu’awiyah sendiri yang akan menyerahkan kembali kekhilafahan kepada Hasan Radhiyallahu 'anhu. Akan tetapi Hasan meninggal dunia sebelum Mu’awiyah meninggal.

Maka ketika itu Mu’awiyah memberikan kekhilafahan kepada anaknya, Yazid. Tatkala Mu’awiyah meninggal, maka Yazid memegang perintah, dan Husain enggan memba’iatnya, lalu ia keluar dari Madinah menuju ke Mekkah dan menetap di sana. Kemudian golongan pendukung ayahnya dari Syi’ah Kufah mengirim surat kepada Husain agar ia keluar bergabung menemui mereka. Mereka menjanjikan akan menolongnya jika ia telah bergabung. Maka Husain tertipu dengan janji mereka, dan mengira bahwa mereka akan merealisasikannya untuk memperbaiki kebijakan yang buruk dan untuk meluruskan penyelisihan yang diawali pada kekhilafahan Yazid bin Mu’awiyah. Perbuatan Husain Radhiyallahu 'anhu untuk bergabung dengan penduduk Kufah sendiri dinilai salah oleh para penasehatnya.

Di antara mereka adalah Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Abdulloh bin Ja’far Radhiyallahu 'anhum dan lainnya. Bahkan ‘Abdulloh bin ‘Umar Radhiyallahu 'anhu terus mendesak kepada Husain agar tetap tinggal di Mekkah dan tidak keluar. Namun dengan dilandasi baik sangka, Husain menyelisihi permusyawarahan mereka dan keluar, lalu Ibnu ‘Umar Radhiyallahu 'anhu berkata kepadanya, “Aku menitipkanmu kepada Alloh dari pembunuhan!”. Begitu Husain Radhiyallahu ‘anhu keluar, ia menemui Farozdaq di jalan yang berkata kepadanya, “Berhati-hatilah engkau, mereka bersamamu namun pedang-pedang mereka bersama Bani Umayyah. Mereka adalah Syi’ah yang mengirim surat kepadamu, dan mereka menginginkanmu untuk keluar (ke tempat mereka), tetapi hati-hati mereka tidak bersamamu.

Secara hakiki mereka mencintaimu, akan tetapi pedang-pedang mereka terhunus bersama Bani Umayyah!” Akhirnya, sangat jelas sekali tampaklah pengkhianatan Syi’ah ahli Kufah, walau mereka sendiri yang mengharapkan kedatangan Husain Radhiyallahu ‘anhu. Maka wakil penguasa Bani Umayyah, ‘Ubaidillah bin Ziyad yang mengetahui sepak terjang Muslim bin ‘Aqil yang telah membai’at Husain, segera mendatangi Muslim dan langsung membunuhnya sekaligus tuan rumah yang menjamunya, Hani bin Urwah al-Muradi. Dan kaum Syi’ah Kufah hanya diam seribu bahasa melihat pembantaian dan tidak memberikan bantuan apa-apa, bahkan mereka mengingkari janji mereka terhadap Husain Radhiyallahu ‘anhu. Hal itu mereka lakukan karena ‘Ubaidillah bin Ziyad telah memberikan segepok uang kepada mereka.

 Maka ketika Husain Radhiyallahu ‘anhu keluar bersama keluarga dan pengikutnya, berangkat pula Ibnu Ziyad untuk menghancurkannya di medan peperangan, maka terbunuhlah Husain Radhiyallahu ‘anhu dan terbunuh pula semua sahabat yang mendampinginya secara terzhalimi dan dapat dianggap sebagai pembantaian sadis. Kepala mulianya terpotong, lalu diambil oleh para wanita dan anak-anak yang berada di antara pasukan dan diberikan paksa kepada Yazid di Damaskus. Ketika melihat kepala Husain dibawa ke hadapannya saat itu, Yazid pun sedih dan menangis. Kemudian para wanita dan anak-anak dikembalikan ke kota, sedangkan anak laki-laki ikut terbunuh, sehingga tidak tersisa dari anak-anak (Husain) kecuali ‘Ali Zainul Abidin yang ketika itu masih kecil. Kemanakah Syi’ah Kufah Pendusta dan Pengkhianat? Sejak pertama, Syi’ah Kufah sudah takut berperang dan telah “siap” menjual kehormatan mereka dengan harta.

Mereka merencanakan pengkhianatan untuk mendapatkan kekayaan dan kedudukan semata, walaupun hal itu harus dibayar dengan menyerahkan salah seorang tokoh Ahlul Bait, Husain Radhiyallahu ‘anhu. Mereka tidak memberikan pertolongan kepada Muslim bin ‘Aqil, dan ternyata tidak pula ikut berperang membantu Husain Radhiyallahu ‘anhu. Dalam tragedi mengenaskan ini, di antara Ahlul Bait lainnya yang gugur bersama Husain Radhiyallahu ‘anhu adalah putera ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu lainnya, yaitu Abu Bakar bin ‘Ali, ‘Umar bin ‘Ali, dan ‘Utsman bin ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu. Juga putera Hasan sendiri, Abu Bakar bin Hasan Radhiyallahu ‘anhu. Namun anehnya, ketika kita mendengar kaset-kaset, ataupun membaca buku-buku Syi’ah yang menceritakan kisah pembunuhan Husain Radhiyallahu ‘anhu, keempat Ahlul Bait tersebut tidak pernah diungkit. Lantas, apa tujuannya? Tentu saja, agar para pengikut Syi’ah tidak memberi nama anak-anak mereka dengan tiga nama sahabat Rosululloh Shallalahualaihi wa sallam yang paling dibenci orang-orang Syi’ah, bahkan yang dilaknat oleh mereka setiap harinya.

Melihat kebusukan perangai dan pengkhinatan Syi’ah, Husain Radhiyallahu ‘anhu dalam doanya yang sangat terkenal sebelum wafat atas mereka adalah “Ya Alloh, apabila Engkau memberi mereka kenikmatan, maka cerai-beraikanlah mereka, jadikanlah mereka menempuh jalan yang berbeda-beda, dan janganlah restui para pemimpin mereka selamanya, karena mereka telah mengundang kami untuk menolong kami, namun ternyata malah memusuhi kami dan membunuh kami!”.

Konspirasi dibalik Terbunuhnya Husain Radhiyallahu ‘anhu Di balik tragedi Karbala, yaitu terbunuhnya Husain Radhiyallahu ‘anhu dan banyak Ahlul Bait lainnya serta rombongan yang menyertainya, ada rahasia besar yang harus diketahui, yaitu:

1. Ternyata yang membunuh Husain Radhiyallahu ‘anhu adalah ‘Ubaidillah bin Ziyad yang berkolaborasi dengan Syi’ah Husain. Fakta ini bahkan diakui oleh sejarawan Syi’ah sendiri, Mulla Baqir al-Majlisi, Qadhi Nurullah Syustri dan lainnya, tentunya selain fakta sejarah yang jelas dan mengedepankan nilai ilmiah yang selama ini telah banyak beredar. Mereka adalah para pengkhianat, musuh-musuh semua kaum Muslimin, bukan hanya bagi Ahlus Sunnah saja. 2. Kecintaan Syi’ah terhadap Ahlul Bait hanyalah isapan jempol dan kebohongan yang dipropagandakan. Bahkan yang Syi’ah da’wahkan tiada lain merupakan upaya untuk menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Majusi Saba’iyah (pengikut Abdulloh bin Saba’). 3. Keadaan Syi’ah yang selalu diburu dan dihukum oleh kerajaan-kerajaan Islam di sepanjang masa dalam sejarah membuktikan dikabulkannya doa Husain Radhiyallahu ‘anhu di medan Karbala akan adzab Syi’ah. 4. Upacara dan ritual Asyura’-an, seperti menyiksa badan dengan cara memukul-mukul tubuh dengan rantai, pisau dan pedang pada 10 Muharram dalam bentuk perkabungan yang dilakukan oleh Syi’ah sehingga mengalirkan darah, juga merupakan bukti diterimanya doa Husain Radhiyallahu ‘anhu, bahkan mereka terhina dengan tangan mereka sendiri. Dari upaya menelusuri tragedi terbunuhnya Husain Rahimahullah dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Syi’ah bukanlah Ahlul Bait, dan Ahlul Bait berlepas diri dari Syi’ah, diantara keduanya terdapat perbedaan yang sangat jauh, bagaikan timur dan barat, bahkan lebih jauh lagi. 2. Barangsiapa yang mengaku-ngaku mencintai dan mengikuti jejak Ahlul Bait namun ternyata mereka berlepas diri dari orang-orang yang dicintai Ahlul Bait tersebut, maka yang ada hanyalah klaim kedustaan dan propaganda kesesatan.


Read More Add your Comment


Syiah Atau Rafidhah



Apa beda syiah dan rafidhah? Kapan muncul istilah rafidhah? Tamu situs kita, DR. Kamaluddin Nurdin Marjuni, membahas masalah ini, lewat makalahnya yang dikirim pada kami lewat email.

Istilah "Rafidhah" sering kita dengar di berbagai buku, majalah dan media massa, baik di Timur Tengah ataupun di Negara-Negara Islam, Namun sayangnya terdapat beberapa kekeliruan dalam memahaminya, sehingga ungkapan "Rafidhah" belum begitu dipastikan apakah gelaran tersebut untuk seluruh sekte Syi’ah, atau hanya sekte-sekte tertentu saja dalam berbagai aliran Syi'ah?.

Untuk menjawab hal ini (hakikat pemakaian istilah "Rafidhah"), maka penulis dalam tulisan ini akan memaparkan asal-usul munculnya "Rafidhah". Kalau melihat sejarah, penamaan Rafidhah ini erat kaitannya dengan gelaran yang diberikan oleh pendiri syi’ah Zaidiyah yaitu Imam Zain bin Ali, yaitu anak dari Imam Ali Zainal Abidin, yang bersama para pengikutnya memberontak kepada khalifah Bani Umayyah Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. Salah seorang ulama Syi'ah Zaidiyah Imam Yahya bin Hamzah 'Alawi (w. 749 H) mendefinisikan Syi’ah Zaidiyah sebagai: "Setiap golongan memiliki doktrin yang dibawa oleh pemimpin masing-masing. Adapun istilah Zaidiyah muncul setelah era Imam Zaid bin Ali bin al-Husain. Semenjak itulah Zaidiyah dikenal sebagai salah satu aliran Syi’ah yang mengatasnamakan nama pemimpinnya".

Jelas dari teks diatas penamaan Syi’ah Zaidiyah dikaitkan dengan Imam Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, dan Zaidiyah merupakan salah satu kelompok Syiah terbesar selain Syi'ah Imamiyah dan Syi'ah Isma’iliyah yang masih eksis sampai saat ini. Imam Ahmad bin Yahya al-Murtadha (w. 840 H) dalam kitabnya yang terkenal "al-Bahru az-Zahhar" menegaskan, bahwa ada tiga golongan besar Syi’ah, yaitu: Zaidiyah, Imamiyah dan Isma’ilyah (di kenal dengan Syi'ah Bathiniyah). Sumber-sumber sejarah dan kitab-kitab klasik yang membahas tentang aliran-aliran Islam menjelaskan bahwa sebenarnya sejarah kemunculan Zaidiyah ditandai ketika Imam Zaid melancarkan revolusi melawan pemerintahan Bani Umayyah, yang didukung oleh lima belas ribu pasukan berasal dari penduduk Kufah di Iraq, di mana hal serupa dilakukan sebelumnya oleh kakek Imam Zaid yaitu imam Hussein bin Ali bin Abi Talib, dan mengalami kegagalan fatal dalam pertempuran di kota Karbala, dengan menewaskan 61 tentara Imam Hussein bin Ali. Namun selanjutnya Imam Zaid tidak menerima kegagalan tersebut, justru ia bersikeras untuk meneruskan revolusi kakeknya dan terus menerus memerangi Bani Umayyah sampai titik darah penghabisan. Maka ia dan bala tentaranya meninggalkan kota Kufah menuju tempat kekuasaan gubernur (Yusuf bin Umar at-Thsaqafi) yang merupakan agen kepala negara ketika itu (Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan) yang berkuasa dari tahun 105 sampai tahun 125 Hijriyah. Tatkala kedua pasukan tersebut bertemu dan saling berhadap-hadapan, dan sebelum kedua pasukan tersebut memulai peperangan, pasukan imam Zaid yang berasal dari penduduk Kufah berkata kepada Imam Zaid: "Kami akan menyokong perjuangamu, namun sebelumnya kami ingin tahu terlebih dahulu sikapmu terhadap Abu Bakar Siddiq dan Umar bin Khattab di mana kedua-duanya telah menzalimi kakekmu Imam Ali bin Abi Thalib". Imam Zaid menjawab: "bagi saya mereka berdua adalah orang yang baik, dan saya tak pernah mendengar ucapan dari ayahku Imam Zainal Abidin tentang perihal keduanya kecuali kebaikan.

Dan kalaulah saat ini saya berani melawan dan menantang perang Bani Umayyah, itu disebabkan karena mereka telah membunuh kakek saya (imam Husain bin Ali). Di samping itu, mereka telah memberanguskan kota Madinah di tengah teriknya matahari pada siang hari. Ketika itu terjadilah peperangan sengit di pintu Tiba kota Madinah. Dan tentara Yazid bin Mu’awiyah (w 63H) ketika itu telah menginjak-injak kehormatan kami, dan membunuh beberapa orang sahabat. Dan mereka menghujani mesjid dengan lemparan batu dan api". Setelah mendengar sikap dan jawaban Imam Zaid, para tentara Kufah meninggalkan Imam Zaid. Dan Imam Zaid berkata kepada mereka: "kalian telah menolak saya, kalian telah menolak saya". Semenjak hari itu tentara tersebut dikenal dengan nama (Rafidhah) . Mereka inilah yang di kemudian hari dikenal dengan nama golongan Syi’ah Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah. Peristiwa inilah yang menjadi akar sejarah penggunaan istilah (Rafidhah) bagi golongan syi’ah Imamiyah, yang di tandai dengan penolakan dukungan perang mereka bersama Imam Zaid untuk menghadapi gubernur Iraq ketika itu (Yusuf bin Umar at-Tsaqafi). Sejarah ini dicatat oleh salah satu sejarawan dan ulama Zaidiyah yang bernama Nasywan al-Himyari (w 573H). Dan dia menegaskan bahwa Penamaan Rafidha bagi golongan syi’ah, disebabkan oleh penolakan mereka membantu imam Zaid untuk berpeperang melawan Bani Umayyah. Yaitu, ketika mereka menanyakan sikap Imam Zaid terhadap Abu Bakar dan Umar. Dan ternyata Imam Zaid memberikan tanggapan yang positif terhadap kedua mantan khalifah tersebut).

Dan kemungkinan besar catatan Nasywan inilah yang membuat salah satu tokoh Mu’tazilah (al-Jahidz) menyimpulkan, bahwa syi’ah sebenarnya terbagi kepada dua golongan saja, yaitu: Syi'ah Zaidiyah dan Syi'ah Rafidhah. Meskipun demikian, dia mengakui kalau masih terdapat golongan lain, namun golongan tersebut baginya tidak terorganisir. Dari keterangan al-Jahidz nampak jelas bahwa istilah "Rafidhah" menurutnya adalah dua golongan syi’ah, yaitu: Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah dan Ismiliyah al-Bathiniyah. Hemat penulis, berdasarkan keterangan diatas, sebuah kekeliruan bila memandang perkataan atau istilah "Rafidhah" disamaratakan untuk semua golongan syi’ah tanpa membedakan antara satu dengan yang lainnya. Seperti yang terjadi pada salah seorang sejarawan Ahlu Sunnah yang sangat populer yang berasal dari golongan 'Asy'ariah, yaitu Abdul Qahir al-Baghdadi dalam bukunya "al-Farq Baina al-Firaq". Di situ disebutkan: "Golongan Rafidhah setelah wafatnya imam Ali bin Abi Thalib terpecah kepada empat golongan, yaitu: Zaidiyah, Imamiyah, Kaisaniyah dan Ghulat (ekstrim). Dan anehnya pandangan inipun diikuti oleh al-Isfarayani yang menegaskan kembali bahwa: "Golongan-golongan Rafidhah terbagi kepada tiga, yaitu: Zaidiyah, Imamiyah dan Kaisaniyah". Kekeliruan ini diingatkan oleh salah seorang ulama syi’ah Zaidiyah "Ahmad bin Musa at-Thabari".

Ia menegaskan bahwa: "Asumsi golongan al-Hasywiyah (Ahlu Sunnah) terhadap syi’ah, mereka menjuluki semua golongan syi’ah dengan satu penamaan, yaitu Rafidhah. Pandangan ini dari segi sejarah tentunya keliru. Sebab yang dimaksud Rafidhah sebenarnya adalah Syi'ah Imamiyah yang merupakan salah satu golongan Syi’ah. Mereka menolak untuk menyokong imam Zaid dalam berperang melawan pasukan Umawiyyah, padahal mereka sendiri telah membai'at imam Zaid. Bahkan pada hakikatnya, golongan imamiyah sendiri memiliki beberapa sekte lagi, diantaranya: Syi'ah Qaramithah (Isma'iliyah). Pada kesempatan lain ia menjelaskan bahwa: "Golongan Imamiyah adalah pengikut imam Musa al-Kazhim bin Ja’far Shadiq (Syi'ah al-Itsna'asyariyah), dan pengikut imam Isma’il bin Ja’far Shadiq (Syi'ah al-Isma'iliyah". Kemudian, imam Shalih al-Maqbali ikut menegaskan juga bahwa syi’ah Zaidiyah bukanlah bagian dari golongan Rafidhah, dan bukan pula golongan Syi’ah ekstim (ghulat). Ia berkata: (Syi’ah Zaidiyah tidak masuk ke dalam golongan Rafidhah.

Bahkan juga tidak dapat digolongkan kepada syi’ah ekstrim, karena Syi'ah Zaidiyah memandang baik para sahabat (yang dikafirkan oleh Imamiyah dan Isma'iliyah), seperti: Utsman, Thalhah, Zubair, Aisyah, terlebih lagi kepada dua sahabat Rasulullah, khalifah Abu Bakar dan dan Umar. Terdapat juga pandangan lain dan tak dapat dipertanggung jawabkan keilmiahannya, yaitu asumsi bahwa Zaidiyah sebenarnya bukan golongan syi’ah, melainkan ia salah satu dari aliran pemikiran Mu’tazilah. Dengan alasan: jika ide mengaitkan Zaidiyah dengan Syi’ah atas dasar bahwa pendiri Zaidiyah adalah berasal dari keturunan ahlu bait, maka begitu juga halnya dengan mu'tazilah, sesungguhnya ide pemikiran Mu’tazilah juga muncul dari ajaran ahlu bait. Statemen ini bukan merupakan sesuatu yang aneh dan menimbulkan rasa heran, sebab Washil bin 'Atha sebagai pendiri Mu’tazilah belajar dari Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad al-Hanafiyyah yang merupakan ahlu bait. Di samping itu, Zaidiyah bukan mazhab yang ekstrim dan berlebihan, sebagaimana ekstimnya syi’ah Imamiyah dan Isma'iliyah. Sebagai contoh yang konkrit, kepemimpinan imam Ali dijadikan fokus utama golongan Syi’ah dan membuahkan nilai-nilai yang ekstrim. Dan keekstriman tersebut tidak ditemukan dalam sikap Zaidiyah terhadap imam, di mana Zaidiyah tidak menganggap imam itu ma'sum. Hal ini disebabkan karena Zaidiyah sangat moderat dalam menilai seorang imam, dalam arti lain tidak mengkultuskan imam. Ditambah lagi, Zaidiyah tidak mengkafirkan para sahabat, sebagaimana syi’ah Imamiyah dan Isma’iliyah terang-terangan mengkafirkan mereka.

Di antara ulama yang berpandangan bahwa Zaidiyah adalah salah satu aliran pemikiran Mu’tazilah dan bukan bagian dari golongan Syi’ah adalah, DR. Muhammad Imarah, lalu diikuti oleh Dr. Abdul Aziz al-Maqalih. Keduanya menegaskan bahwa: "(Zaidiyah adalah salah satu aliran pemikiran dalam Mu’tazilah. Oleh karena itu, tidaklah tepat pandangan para ulama -baik klasik ataupun kontemporer- yang menggolongkan Zaidiyah sebagai bagian daripada syi’ah" .

Senada dengan pandangan diatas, Syekh Ali Asfur menafikan Zaidiyah sebagai bagian dari golongan Syi’ah, dengan alasan yang sama juga bahwa Zaidiyah tidak mengatakan imam itu ma’sum (terpelihara dari noda dan dosa). Hemat penulis ini merupakan asumsi yang keliru dan perlu di tinjau ulang. Sebab semangat Syi’ah sangat jelas dalam Zaidiyah. Khususnya pada masalah Imamah (politik), di mana mereka mensyaratkan (seperti halnya Imamiyah dan Isma'iliyah) bahwa imam mesti berasal dari keturunan Fatimah. Dan bedanya, kalau Imamiyah dan Isma'iliyah mensyaratkan garis keturunan dari imam Husein saja, sedangkan Zaidiyah berpendapat dari garis keturunan keduanya, yaitu: Hasan dan Husein, (dan hal ini juga yang membuat mereka bertengkar secara interen).

Adapun alasan bahwa Syi'ah Zaidiyah dikenal sebagai golongan yang memiliki pemikiran yang moderat dan tidak ekstrim dibandingkan golongan Syi’ah Imamiyah dan Isma'iliyah. Maka alasan inipun tidak dapat diterima. Sebab, kemoderatan dan keekstriman berpikir merupakan tabi’at tiap golongan dan aliran manapun. Oleh karena itu, tiap-tiap golongan dapat ditemukan kecenderungan moderat dan ekstrim, seperti halnya dalam golongan Syi'ah Zaidiyah. Di sanapun terdapat sekumpulan ulama Zaidiyah yang berpikiran ekstrim yang dikenal dengan golongan (Syi'ah Zaidiyah al-Jarudiyah). Rincian pandangan golongan ini dapat dibaca dalam buku penulis tentang teori politik Syi'ah "al-Firaq as-Syi'iyyah wa Ushuuluha as-Siyasiyah wa Mauqif Ahli Sunnah Minha" USIM, Malaysia, 2009. Imam Shalih al-Maqbali di lain tempat menjelaskan tentang adanya unsur moderat dan unsur ekstrim dalam tiap golongan, seperti yang terjadi dalam Syi'ah Zaidiyah. Ia menjelaskan lebih jauh bahwa: "Sebagian dari pengikut Awam Zaidiyah ada yang berpandangan bahwa derajat dan kedudukan seorang imam sama saja dengan kedudukan Nabi … dan hal ini membuktikan bahwa setiap mazhab ada saja unsur bid’ah didalamnya.

Bahkan dipenuhi dengan berbagai bid’ah. Dan terlebih lagi kalau orang tersebut hanya mengandalkan kepada akal pikirannya sendiri. Dan yang tepenting serta merupakan realiti bahwa semua mazhab telah berbuat demikian, walaupun dalam sebagian permasalahan saja". Juga perlu ditandaskan di sini, bahwa ulama Syi’ah Imamiyah telah menegaskan Zaidiyah sebagai salah satu golongan Syi’ah. Syekh al-Mufid (w 413H) berkata: "Sesungguhnya syi’ah itu ada dua golongan: Imamiyah dan Zaidiyah) . Dan Imamiyah yang dimaksudkan disini adalah: Itsna ‘Asyariah dan Ismal’iliyah". Pada tempat lain, Syekh Muhammad Husein al-Kasyiful Ghita dalam penjelasannya tentang perbedaan Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariah dibandingkan syi’ah lain, ia menegaskan: "keistimewaan utama yang dimiliki oleh Syi’ah Imamiyah dibandingkan dengan seluruh golongan dan aliran keislaman yang lain, yaitu keyakinan mereka terhadap imam dua belas. Dan atas dasar meyakini imam dua belas inilah yang membuat penamaan golongan imamiyah dengan nama "al-Itsna ‘Asyariah". Sebab tidak semua golongan Syi’ah meyakini dua belas imam.

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa penamaan Syi’ah mencakupi juga golongan Zaidiyah, Isma’iliyah, Waqifiyah, Fathiyyah dan lain-lain" . Sebagai pelengkap, Nasywan al-Humayri menegaskan pembagian gologan Syi’ah kepada enam sekte, yaitu: (Saba'iyyah, Sahabiyyah, Gharabiyyah, Kamiliyyah, Zaidiyyah dan Imamiyyah). Ada pandangan lain dari Al-Malithi. Ia berpandangan, bahwa Mu’tazilah itu sebenarnya adalah bagian dari golongan Syi’ah Zaidiyah. Tentu pandangan ini tak dapat diterima. Sebab tidak dapat dipepertanggunjawabkan keilmiahannya. Demikianlah asal usul penamaan Rafidhah, yang merupakan gelaran atau julukan yang diberikan oleh pendiri Syi’ah Zaidiyah yang dikategorikan sebagai salah satu golongan terbesar Syi’ah selain Syi'ah Imamiyah Itsna’asyariah dan Syi'ah Isma’iliyah Bathinyah. DR. Kamaludin Nurdin Marjuni (Department of Islamic Theology & Religion, ISLAMIC SCIENCE UNIVERSITY OF MALAYSIA


Read More Add your Comment


 

© 2010 Syiah All Rights Reserved Thesis WordPress Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors.info